Home / CERITA SEX ADEK KAKAK / kakak adik pulang dari tempat hiburan

kakak adik pulang dari tempat hiburan

CERITANAKAL.Ketika kami turun di depan apartemen dan dia masih harus membayar ongkos taksi, aku memaksa berjalan sendiri dengan langkah gontai karena sepatu high heel yang aku pakai. Setelah berjalan beberapa langkah, aku menjatuhkan diriku ke lantai, membuat security dan Rendra langsung bergegas menarikku berdiri.

“Tuh kan… Aku bilang juga apa? Jalan aja gak beres dan Kakak bilang gak mabok?”

“Non Nina nggak apa-apa?” aku hanya menjawab dengan menggeleng pelan saat Rendra kembali memapahku dan menempelkan tubuhku ke tubuhnya,

“Biar saya bawa ke atas Pak… Minta tolong pencetin tombol lift aja!”

“Okey Mas…”

Dengan bantuan Security, kami berhasil naik ke lantai kamarku, tapi begitu pintu lift terbuka, lagi-lagi aku mendorong tubuhnya menjauh dan melompat keluar dari lift.

“Nina…” serunya kaget saat melihat aku hampir jatuh lagi karpet lorong.

Mendengar dia memanggil namaku tanpa embel-embel, aku jadi mendapat bahan untuk meledeknya, “Oh… Sekarang baru kamu mau panggil nama aku? Nunggu aku terlalu mabok sampai besoknya lupa kalau kamu udah manggil aku dengan tanpa embel-embel Kakak?”

“Emangnya, kamu suka ga inget ama kejadian waktu mabok?”

“Dari yang temen-temen aku bilang sih iya…” kataku sambil berbalik menghadapinya dan nyengir,

“Semua kejadian?”

“Semua…” kataku sambil melangkah mundur dan dengan sukses dan tanpa pura-pura, jatuh ke belakang, dan jika bukan karena kecepatan Rendra, pantatku sudah mendarat di karpet.

Melihat wajah tampannya dari dekat, aku tergoda untuk menjahilinya lebih jauh, jadi setelah mendapatkan keseimbangan tubuhku, aku pun menarik wajahnya ke wajahku dan menciumnya.

Ciuman kami bertahan beberapa detik sebelum akhirnya aku mundur selangkah dan melihat ekspresi kagetnya, “Itu juga… besok mungkin akan terlupakan!”.SITUS DOMINO TERPERCAYA

Wajah Rendra yang terkejut cukup membuatku terhibur dan aku pun tersenyum kepadanya dan membuka mulut untuk melontarkan satu ledekan kepadanya, namun sebelum sepatah kata terucap dariku, Rendra sudah maju dan meraih kepalaku dengan kedua tangannya.

Jujur, aku sendiri terkejut saat Rendra menciumku, karena aku tak menyangka dia akan berani melakukan itu. Beberapa kali memang Rendra menunjukkan seolah dia masih menyukaiku seperti saat dia masih bocah. Tapi, aku selalu menganggap itu hanya sebuah kekaguman belaka. Tak kusangka, bocah yang kini sudah tumbuh dewasa ini masih menaruh hati kepadaku.

Ciumannya lembut dan tidak begitu agresif, tapi ini bukan ciuman anak kecil kepada sahabat kakaknya, ini adalah ciuman dua orang dewasa yang sedang terbawa suasana. Menyukai rasa ciumannya, akupun membalas ciuman itu. Rendra membawaku mundur hingga punggungku menempel di tembok lorong dan kemudian memperdalam ciuman kami.

Tangannya tak lagi membingkai wajahku, namun dilingkarkannya di tubuhku. Tangan kanannya di punggungku, tangan kirinya di pinggulku, sesekali mengusap dan meremas.

Ciuman kami terhenti karena denting lift yang terbuka entah di lantai berapa. Dia melepaskan pelukannya dan memandangku dengan tatapan kalah.

“Apa?” tanyaku, sedangkan Rendra hanya diam saja, membuka pintu dengan kuncinya kemudian memapahku masuk ke dalam apartemen. Dia mengantarku masuk ke dalam kamar dan mendudukkanku di atas tempat tidur, sebelum akhirnya dia melangkah mundur, bermaksud untuk meninggalkan aku sendirian.

“Ren…” panggilku,.BandarQQ terpercaya

“Iya?” sahutnya berhenti setengah jalan,

“Kamu mau kemana?” tanyaku lagi, sambil melepaskan atasanku,

“Tidur Kak…” jawabnya tanpa menoleh

“Rendra…” panggilku lagi, saat dia masih memunggungiku,

“Sebaiknya Kakak isti…” kata-katanya terpotong saat dia berbalik ke arahku dan melihatku duduk di atas tempat tidur tanpa atasan,

“Aku mau dicium lagi…”

Kulihat dia bersusah payah menelan ludah mendengar permintaanku, aku merangkak ke ujung tempat tidur mendekati posisinya berdiri, kemudian mengangkat tanganku ke arahnya, “Please…”

“Kak Nina… Kakak gak tau apa yang Kakak omongin saat ini!”

“Sssstttt… Aku cukup sadar untuk tahu apa yang aku mau dan aku mau kamu kesini sekarang dan bawa bokong seksimu kesini…”

Dia masih bisa tersenyum mendengar kata-kataku, namun kemudian dia menuruti permintaanku.

Perlahan dia membungkukkan tubuhnya ke arahku dan kembali mencium bibirku. Sama lembutnya dengan ciuman tadi, namun kali ini dia tak lagi ragu-ragu. Kulingkarkan tangan di tengkuknya, kemudian menariknya turun bersamaku ke tempat tidur. Dia menyangga tubuhku dengan satu tangannya dan tangan lainnya menahan momentum kami.

Aku pun berbaring disana dengan Rendra menutupi tubuhku, dengan sebuah dorongan aku membalikkan keadaan, menempatkan Rendra dibawahku dan aku pun duduk mengangkangi tubuhnya. Kuletakkan tanganku di dadanya kemudian kusapukan perlahan semakin kebawah, bisa kurasakan tubuhnya bergidik karena sentuhanku dan ketika tanganku sampai di kancing celananya, tiba-tiba saja tangannya menangkap tanganku dan dia pun bangkit duduk membawaku diatas pangkuannya.

“Stop Kak!”

“Mulai lagi dengan panggilan itu… Tidakkah menurutmu tidak etis jika kau masih memanggilku Kakak ketika kita ada pada posisi ini? Aku di pangkuanmu setengah telanjang dengan aku bisa merasakan betapa kerasnya ereksi yang sedang kau alami saat ini melalui celana dalamku?”

“Mau sampai sejauh mana Kak Nina mempermainkanku?”

“Apa kamu melihatku sedang bermain-main?” tanyaku sambil menggesekkan celana dalamku ke bagian celananya yang menggembung,

“Hentikan dulu itu! Aku ingin Kak Nina berpikir baik-baik!”

“Aku biasanya berhenti berpikir ketika bercinta Ren dan mulai bertindak…” kataku lalu menerkam bibirnya dengan penuh nafsu.

Setelah beberapa saat Rendra kembali menjauhkan dirinya dari jangkauanku.

“Sebelum kita bertindak lebih jauh… Aku ingin kamu tahu. Aku mencintaimu!”

“…” aku hanya menatapnya tak bergeming,

“Sejak dulu… Dulu sekali…”

“Kamu tahu aku akan melupakan semua kata-katamu ini besok kan?”

“Aku hanya ingin kamu tahu itu dan mencamkan fakta itu di fikiranmu saat kita benar-benar bercinta…”

“Dan kapan kah itu?” tanyaku sambil berusaha bangkit dari tubuhnya, namun sebelum aku benar-benar berdiri diatas kedua kakiku, Rendra menarikku hingga jatuh kembali ke atas tubuhnya.

“Sekarang!”

Rendra tidak membiarkan aku menguasai keadaan ini sama sekali, dia bersikeras untuk memimpin sesi percintaan kami malam itu. Seolah dia ingin mencurahkan segala perasaannya padaku. Hal ini menyentuhku sedemikian rupa. Dia tahu aku akan melupakan malam ini, dan dia masih mau menerima itu. Menilik kepribadiaannya selama ini, dia takkan dengan mudah lupa kenangan ini. Dan ini akan sangat menyiksanya mengetahui bahwa aku takkan mengingat satu detik pun dari moment indah ini.

Dengan penuh kelembutan dia membelaiku, menciumku dan memberikanku kenikmatan. Entah mungkin karena kesentimennya akan fakta bahwa akhirnya dia bisa memilikiku sosok cinta pertamanya walau hanya untuk semalam, atau karena dia memang masih sangat-sangat mencintaiku. Entah yang mana yang telah membuat dia begitu lemah lembut. Seharusnya melihat usianya yang muda, nafsunya akan sangat menggebu-gebu dan tergesa-gesa, tapi tidak dia tidak terburu-buru menyudahi sesi percintaan kami malam itu.

*&^%$#

“Pagi Kak…” sapanya saat aku keluar dari kamar siang itu,

“Ini sepertinya sudah bukan pagi lagi Ren!” sahutku.

Aku terbangun tanpa sehelai benang pun menempel di tubuhku, kecuali selimut dan sendirian. Entah jam berapa semalam kami menyudahi sesi bercinta versi Rendra, namun beberapa saat sebelum aku benar-benar terlelap, aku ingat belaian tangannya di rambut dan punggungku. Ketika aku terbangun tanpa dirinya, terus terang aku kecewa. Tertidur di dalam pelukan seseorang dan bangun bersama bukan jenis kemewahan yang sering aku dapatkan.

“Kamu masak apa?” tanyaku padanya sambil mengambil air dari lemari es,

“Aku ga masak, aku sendiri baru bangun. Aku beli dari rumah makan di sekitar sini. Kakak sarapan aja dulu…” katanya sambil menunduk di atas piring makannya,

“Ow… okey!”

Aku duduk di depannya dan melihat dia berusaha mengendalikan kekikukan suasana. Mungkin dia tak yakin apa aku ingat kejadian semalam atau tidak. Dia akan meloncat dari jendela jika tahu aku mengingat semuanya. Namun, aku sendiri tak yakin apa harus berpura-pura bodoh atau mengatakan bahwa aku ingat semuanya. Bukan seperti aku jika aku berpura-pura melupakan semuanya.

“Tadi pagi, temanmu menelpon… Aku bilang kamu masih tidur.” katanya memulai pembicaraan,

“Kamu angkat telponku?” tanyaku heran, Rendra bukan orang usil yang mengangkat panggilan dari hape orang lain.

“Handphone bunyi terus jadi aku angkat saja, siapa tau masalah darurat!” katanya sambil menunjukkan tempat hape ku tergeletak bersebelahan dengan tas tanganku.

Rupanya semalam aku lupa membawanya masuk ke dalam kamar. Entah aku atau Rendra yang meletakkan tas itu di sofa ruang tamu.

“ooo… ternyata?”

“Denia… dia hanya memastikan kalau kamu baik-baik saja!”

“Dia hanya usil… Memangnya apa yang bisa terjadi dengan kamu menjadi pengawalku semalam…” kataku sambil lalu dan akhirnya aku menemukan cara tak kentara untuk melihat reaksinya atas kejadian semalam, “Kamu tahu, sepertinya kebiasaanku saat mabuk semakin parah, aku agak bingung tadi saat bangun dan menyadari telah tidur telanjang tanpa pakaian.”

Kulihat matanya melotot dan kesulitan menelan makanan yang ada di mulutnya. Kubiarkan dia sedikit menenangkan diri sambil menghabiskan air dalam gelasnya, tanpa berani menatap mataku.

“Aku harap aku tidak melakukan hal-hal aneh di depanmu!” sahutku lagi saat melihat dia sudah cukup bisa mengendalikan diri.

“Haha… enggak kok! Mungkin Kak Nina melepaskan sendiri bajumu ketika setengah tidur!”

“Iya kan… Aneh sekali!” sahutku lagi sambil menghabiskan sarapanku.

“Hari ini Kakak mau kemana?” tanyanya sambil lalu,

“Dirumah aja… Lagi malas keluar! Jangan bangunkan aku ya… aku mau tidur aja di kamar!”

“Okey…”

Beberapa hari kemudian, Lulu kembali dari perjalanannya yang kali ini terasa amat panjang. Setelah kejadian malam itu, Rendra sangat berhati-hati dalam menghadapiku. Aku sendiri tidak berencana melanjutkan atau mengulang affair kecil kami malam itu. Aku jelas tidak mungkin terang-terang mengencani adik dari sahabat dekatku. Belum lagi melihat bagaimana Rendra terlalu mudah terbawa perasaannya jika sudah melibatkan aku, aku jelas tak ingin mempersulit masalah yang ada.

Biar saja kenangan malam itu ada di benaknya. Toh dia takkan berani bilang apapun karena seharusnya aku tidak ingat apapun malam itu. Kelembutan yang diberikan Rendra malam itu bisa cukup membuat kecanduan, tapi aku benar-benar tidak berminat untuk tenggelam dan kelembutannya.

Kami berpisah tanpa banyak kata basa-basi, toh kami masih tinggal di satu kompleks apartemen, masih akan ada banyak kesempatan untuk bertemu, sengaja atau tak sengaja.

Dan tak terasa waktu berlalu begitu saja, dari hari ke hari aku dan Lulu sering bertemu di coffee shop atau dirumahnya dan terkadang aku juga akan bertemu Rendra. Dia masih terlihat sama, cukup perhatian dan baik, namun terlihat usahanya untuk tidak terlalu lama bersamaku. Bukan berarti aku keberatan, tapi seminggu lebih dia dirumahku, aku cukup terbiasa dengan keberadaannya. Tidak heran terkadang aku mendapati diriku merindukannya.

Malam itu, aku memutuskan untuk bertemu dengan Bayu dan hang out sebentar bersamanya. Beban pekerjaanku semakin berat, terus terang aku merindukan masa-masa menjadi sekretaris seorang bos, saat itu beban pekerjaan tidak terasa begini berat. Aku masih bisa hang out dan clubbing hampir setiap weekend. Namun akhir-akhir ini aku merasa weekend ku terus kuisi dengan lembur untuk membuat proposal atau laporan.

“Nin… You look out of it!” katanya dari seberang meja, seperti biasa rambut panjangnya diikat ke belakang dan kaki jenjangnya bersilang di bawah meja,

“Haha… Yah… ini tidak seperti tahun-tahun pertamaku di perusahaan. Dan lagi aku bukan lagi sekretaris. Rasanya beban kerja memang semakin banyak!”sahutku sambil menyandarkan tubuhku ke sandaran bangku cafe,

“Kamu terlalu serba bisa… Jadinya bosmu semakin banyak memberi tanggung jawab. Bukan begitu?! You need to lay low Na!” sahutnya sambil meminum kopinya,

“Hah… Lay low??” tanyaku mulai tertarik akan komentarnya,

“Yeah… specs mu terlalu bagus Na… Itu jadi membuatmu bisa ditempatkan di posisi apapun. Bayangkan, bahasa asing aja berapa banyak yang kamu kuasai, keahlian sosialmu juga cukup bagus, tentang perencanaan dan marketing sudah bisa kamu handle. Bosmu benar-benar makan gaji buta akhir-akhir ini. Siapa tau jika semua beban pekerjaannya kau selesaikan?!”

“Ah, mungkin benar juga, akhir-akhir ini aku hanya bertemu dengan bos untuk meminta persetujuan proposal, hampir tak ada revisi yang diberikan untuk proposal atau laporanku!” kataku sambil menikmati es krim sundaeku

“Itu berarti, keahlianmu sudah diakuinya kan?”

“Bisa jadi… Huft… tapi aku berharap lebih banyak waktu luang untukku!” jawabku lagi masih memainkan es krimku dengan sendok,

“Untuk bersenang-senang?” tanyanya sambil menyingkirkan rambut dari depan wajahku,

“Ya itu juga!” tiba-tiba Bayu mencondongkan tubuhnya ke arahku dan mencuri sebuah ciuman, “Apaan sih?”

“Sudah lama aku tak bertemu denganmu tau… Aku kangen!” katanya sambil menciumku lagi dengan ringan,

“Haha… Yeah rite…” kataku mendorongnya kembali ke kursinya sendiri,

“Aku serius Na! Boleh aku mampir hari ini?” tanyanya sambil tersenyum padaku,

“Boleh…” sahutku akhirnya.

Bayu mengikutiku pulang dengan mobilnya dan begitu kami keluar dari mobil dia langsung melangkah ke arahku dengan langkah lebar dan meraihku dalam rengkuhannya. Rasanya menyenangkan bisa berada dalam pelukannya, sudah hampir 3 mingguan sejak malam dimana aku dan Rendra bercinta. Dan lagi aku lebih menyukai gaya bercinta Bayu, hanya dengan ciuman di area parkir ini, aku sudah bisa membayangkan malam panas yang menanti.

Disandarkannya aku ke samping mobilku sambil dia memperdalam ciuman kami, “Kita benar-benar harus segera masuk ke kamarmu, atau aku akan memasukimu disini disamping mobilmu, Na!”

“Sabar Bayu… besok hari Sabtu! Kita punya seluruh akhir pekan untuk bersama!” kataku sambil menyudahi ciuman kami dan menggandeng tangannya.

Bayu tidak harus dibujuk untuk mengikutiku masuk, kami mencuri-curi ciuman di tempat-tempat tersembunyi sepanjang koridor. Bayu bisa menjadi kekasih yang mengagumkan jika aku mengijinkannya, hanya saja aku selalu memberi beberapa batasan padanya karena selain kekasihku dia juga adalah sahabat dekatku. Aku tak mau menukar seorang sahabat dengan apapun, bahkan seks yang hebat sekalipun.

Begitu memasuki pintu apartemen, Bayu langsung mendorongku ke tembok dan menutup pintu dengan kakinya. Kami berciuman dengan hebohnya dari situ hingga ke sofa ruang tengah, tak pernah sampai ke tempat tidurku, dia menarikku bersama dengannya berbaring di atas sofa dan melanjutkan ciuman penuh nafsu.

Kaki membelit kaki dan diantara kesibukan bibir dan lidah yang saling mengecap, kami berebut melepas pakaian yang menempel di tubuh. Bayu memasukiku dengan satu hentakan dan tanganku reflek merengkuhnya dan kami pun bergerak seirama, bersama mencari kepuasan dari tubuh masing-masing.

Setelah 1 sesi diatas sofa kemudian merosot ke atas karpet dan melakukan 1 sesi lambat dan malas, kami tertidur dengan aku berbaring telanjang di atas tubuhnya dan selimut menutupi kami berdua.

Aku bisa merasakan matahari telah bersinar, kehangatannya masuk melalui jendela apartemen dan menghangatkan ruangan. Aku ingat semalam kami tidak pindah ke tempat tidur jadi aku tidak heran merasakan lembutnya karpet ruang tamu dibawah tubuhku, salah satu kakiku tak bisa digerakkan jadi aku berkesimpulan Bayu masih tidur disampingku dan seperti kebiasaannya selama ini, kakinya akan membelit kakiku. Kuregangkan tanganku dan meraihnya, beringsut mendekati tubuhnya dan ingin sedikit bermanja. Kurasakan lengannya balas memelukku dan menarikku lebih dekat dengan tubuhnya.

Aku bersiap untuk tertidur lagi ketika aku mendengar suara pintu yang terbuka dan langkah kaki memasuki apartemen.

“Kak Nina…” panggilnya, suara seorang pria yang sudah beberapa hari ini tak kudengar, namun cukup akrab,

“Siapa kamu?” kurasakan Bayu bangkit dari tempatnya dan duduk di sampingku.

“Ada apa Yu?” tanyaku sambil berpegang padanya dan ikut bangun, “Rendra??” aku terkejut melihat dia ada di dalam kamarku,

“Kamu kenal dia?” tanyanya bingung,

“Adik Lulu…”

“Oh yang sempat numpang disini?”

“Iya…”mendengar jawabanku Bayu meraih selimut dan membelitkannya di tubuhku,

“Kamu mandi aja dulu…” katanya sambil memastikan tubuhku tertutup selimut,

“Gak usah… aku… aku rasa… aku harus pergi!” Rendra sedikit tergagap saat bicara,

“Tak perlu! Kamu toh sudah di dalam… Aku akan berpakaian dulu…” Bayu bangkit dari karpet dan melenggang dengan bebas menuju tempat dia melempar celananya semalam dan memakainya dengan cuek di depanku dan Rendra.

Well, tidak ada yang bisa disembunyikan tentang apa yang terjadi antara aku dan Bayu melihat keadaan kami berdua. Jadi akupun bangkit sambil membawa selimutku untuk menutupi tubuh dan berjalan menuju kamarku untuk mandi dan menggunakan baju.

“Silahkan duduk! Aku buatkan kopi sebentar…” sahut Bayu pada Rendra sambil menunjuk kursi di ruang makan

“Tidak perlu… sungguh…”

“Duduk!!”

Bayu bisa sangat bossy jika dibutuhkan dan aku hanya bisa tertawa dalam hati membayangkan betapa kacaunya pikiran Rendra saat ini. Samar-samar aku bisa mendengar percakapan mereka dari dalam kamarku.

“Ada yang mau kamu sampaikan?” tanyanya,

“Eh… tidak juga… aku…”

“Kamu pasti ada perlu mendesak untuk masuk ke dalam apartemen seorang perempuan tanpa mengetuk lebih dulu kan?”

“Maaf aku…”

“Melihat kamu adalah adik dari teman dekatnya, aku tahu hubungan kalian cukup dekat, tapi aku rasa itu tidak membenarkan tindakanmu untuk masuk tanpa diundang kan?”

“Bayu… udah deh! Jangan marah-marah terus!” kataku padanya saat keluar dari kamar mandi menggunakan jubah mandiku,

“Aku ga marah-marah, cuma ini harus dilurusin… Dia masuk pake kunci Na! Memangnya saat dia balik tinggal ama Kakaknya kamu ga minta kembali kunci duplikat kamar kamu?”

“Aku lupa…” sahutku sambil mengeringkan rambutku

“Kamu sendiri juga ceroboh…”

“Bukan salah Kak Nina… aku masih punya kuncinya karena itu aku masuk tanpa mengetuk karena ga mau ganggu. Biasanya jam segini Kak Nina masih tidur dan karena ini akhir pekan…” dia terus menunduk menatap cangkir kopinya, “aku juga tidak tahu kalau dia lagi ada tamu!”

“Aku bukan tamu…” sahut Bayu cuek,

“Aku benar-benar minta maaf!” katanya sambil bangkit dari bangku dan berjalan menuju pintu.

Aku menunggu hingga Rendra keluar dari apartemenku untuk menghadapi Bayu yang terlihat masih bersungut-sungut.

“Apa?” tanyanya acuh,

“Kamu tahu itu sangat kekanak-kanakan kan?”

“Apa?”

“Menggodanya begitu…”

“Aku tidak menggoda, aku hanya menunjukkan rasa kepemilikan…”

“Kamu tidak perlu melakukan itu, percayalah dia sudah melihat bukti yang lebih otentik!”

“Biarkan dia tahu kamu milikku… dan dia akan menghindar dengan sendirinya…”

“Dia adik sahabatku Yu…”

“Dia juga memendam rasa cinta padamu…”

“Lalu??”

“Tak butuh waktu lama dan skill tingkat tinggi untuk melihat betapa dia masih mencintaimu Na… Dan aku yakin dia akan melakukan sesuatu tentang itu jika defense mu tidak bagus! Kamu terlalu lengah padanya!”

“Bayu…”

“Apa?”

“Apa aku sudah bilang kalau kamu sangat seksi saat serius begitu?!” kataku sambil mengalungkan lenganku di lehernya dan mulai menciumi bibir dan pipinya,

“Stop it, Na!”katanya tak serius dan berkelit, karena aku tak kunjung berhenti dia pun menangkap bibirku dengan bibirnya dan menciumku habis-habisan.

BandarQ | AduQ Terpercaya

==============================================
==============================================

PENDAFTARAN BANDAR POKER TERPERCAYA, WWW.YAKINWD.COM , BISA : KLIK DISINI !!! ATAU KLIK DISINI, LANGSUNG REGISTER !!!

PENDAFTARAN BANDAR POKER TERPERCAYA, WWW.YAKINWD.COM , BISA : KLIK DISINI !!! ATAU KLIK DISINI, LANGSUNG REGISTER !!!

===================================

=========================================

UNTUK MENDAFTAR DI POKER ONLINE TERPERCAYA, WWW.PERMATAPOKER.COM , BISA : KLIK DISINI !!!

DewaPoker | Poker Online Terpercaya

=========================================

===================================

About veronica

Check Also

Ngentot Kakak 3 Beradik Sekaligus

CERITANAKAL –Wajahku tidaklah ganteng atau macho akan tetapi biasa-biasa saja dan aku bukan pemuda yang tinggi, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *